GRI Surabaya: “Share The Love”

Share The Love, Membaca dan Berbagi Cinta

Membaca adalah mendapatkan. Berbagi sudah merupakan lain hal. Membaca sanggup membuat berbagi? Itu yang kami harapkan.
Mas Agung Beka, staf Perpustakaan UNAIR menghubungi kami. Di bulan Februari yang akrab dengan berbagai pernik kasih sayang itu, beliau ingin mengundang Goodreads Indonesia regional Surabaya untuk berbagi cerita pada mahasiswa tentang kecintaan kami terhadap buku dan membaca. Di kesempatan sebelumnya, kami sempat meminjam tempat di American Corner Perpus UNAIR untuk bedah novel Green Card milik Dani Sirait. Meski gembira dengan tawaran Mas Agung, kami merasa mesti mengembangkan konsep acara. Mengingat setiap bulannya pun kami kerap berbagi tentang Goodreads Surabaya. Berinisiatif menawarkan konsep acara baru, ternyata disambut antusias oleh beliau.
Satu narasumber sudah biasa. Bagaimana dengan beberapa? Mengikuti alur tema kasih sayang, kami berinisiatif mengucapkan terima kasih pada sahabat-sahabat yang pernah bekerjasama dengan kami selama ini. Profesional, penulis, editor, penerjemah, media, pegiat literasi, dsb. Mereka memiliki kesempatan untuk berbagi tentang aktivitas yang sedang dilakukan, pun kami ingin mahasiswa yang hadir dapat mendengar berbagai inspirasi dan dapat menjalin komunikasi langsung dari para narasumber. Gayung bersambut. Sebelas undangan menyanggupi untuk hadir dan berbagi bersama GRI Sby di panggung FlashLounge Perpustakaan UNAIR tanggal 27 Februari 2015.
Kami sempat tak berekspektasi besar pada acara ini. Selain karena memang diadakan saat jam efektif sekolah dan kerja, kami murni hanya ingin bersilaturahim dengan berbagai pihak. Namun berkat kerjasama dengan Perpustakaan UNAIR, ini acara pertama kami yang dihadiri oleh lebih dari 80 orang peserta dengan 10 narasumber bersamaan di satu panggung. Sementara Airlangga Orchestra mengiringi kami dengan musik-musik indah.
Ade Kumalasari (Penulis, Penerjemah, Editor Bentang Pustaka), Nina DK (Manager Production nulisbuku.com, Nulisbuku Club Surabaya), Irma Nurul Chusnal (Pengajar IFI Surabaya), Karguna Purnama (Pengajar IFI Surabaya), Widyoseno Estitoyo (Owner Oost Koffie & Thee), Kuntari P Januwarsi (Penulis, penerjemah, editor, founder artebia.com), Diah Rizki (Koordinator Klub Buku Surabaya), Hestia Istiviani (Founder Subreaders), Zulva Avidiansyah (Peneliti GRI Surabaya), Praja Firdaus Nuryananda (Dosen, Pegiat Literasi UPN). 10 narasumber ini berbagi tentang aktivitas yang sedang dijalani, juga keterkaitan mereka dengan budaya literasi yang mempengaruhi profesi mereka.
Sebagai seorang pekerja perbukuan, Mbak Ade Kumala menjadikan kegiatan membaca bukan sekadar hobi, namun juga ladang pekerjaan. Ia berkisah bahwa profesi penulis, editor lepas maupun penerjemah lepas sangat memudahkan dirinya dalam berkarir sekaligus menjadi seorang ibu. Ia mampu tetap produktif melakukan kegiatannya di rumah sembari mengurus keluarga. Begitu pula dengan Mbak Kuntari. Selain menekuni dunia perbukuan, ia juga sedang menjalankan sebuah media online, artiebia.com, dimana media ini diciptakan berdasarkan kecintaannya pada menulis tentang apa saja. Berbagai rubrik menarik ditampilkan agar mampu menjadi sumber hiburan dan informasi untuk para pembaca. Mengajak rasa cinta membaca kami, Kang Karguna dan Teh Irma yang pernah tinggal di Prancis mengatakan bahwa budaya literasi sudah tertanam dengan baik pada anak-anak muda di Prancis, dengan kapanpun mereka memiliki waktu, mereka akan melewatinya dengan membaca. Dengan itu, bukan tidak mungkin anak muda Surabaya kelak akan memiliki kebiasaan yang serupa. Kecintaan mereka pada bahasa, tentunya berangkat dari kecintaan pada membaca. Belajar bahasa asing pun akan mempermudah kita untuk membaca berbagai jenis buku. Namun, Teh Irma menekankan, yang perlu diperhatikan bukan hanya proses membaca, namun juga bagaimana mengamalkan nilai-nilai positif yang didapatkan setelah membaca.
Membaca memiliki keterkaitan kuat dengan menulis. Mbak Nina DK berbagi harapan dengan adanya nulisbuku.com, dapat mewadahi karya-karya penulis melalui jalur self-publishing, sebagai opsi lain untuk menerbitkan buku dengan jalur konvensional. Beliau berpesan bahwa membaca seharusnya bukan hanya di waktu luang, agar membaca memiliki porsi yang lebih besar dalam kegiatan kita sehari-hari. Berbeda cara, Widyoseno Estitoyo memilih menyalurkan kegemaran membacanya dengan mengalokasikan salah satu sudut kafe miliknya untuk rak berisikan buku-buku menarik yang mampu diakses oleh pengunjung. Bahkan tak jarang pengunjung yang datang memberikan buku untuk diletakkan pada rak buku Oost. Kebiasaannya untuk melahap novel impor kini bergeser menjadi buku-buku self-help yang menunjang profesinya, baik sebagai seorang entrepreneur maupun seorang manager marketing sebuah perusahaan penerbitan. Mas Seno mengungkap sebuah fakta menarik menyangkut industri perbukuan. Menurutnya, di luar negeri yang jauh lebih dulu mempopulerkan e-book, saat ini penjualan buku digital justru menunjukkan jumlah yang stagnan. Tandanya, buku fisik masih akan punya tempat dan akan terus dicari. Diah dan Hesti merupakan representasi anak-anak muda yang peduli pada budaya membaca melalui komunitas-komunitas yang mereka pimpin. Berawal dari membaca, di masa kuliah mereka saat ini, mereka sudah memiliki pekerjaan sebagai reporter media online serta community manager. Mereka mengakui bahwa membaca sangat mendukung hal-hal yang mereka kerjakan. Bahkan Hesti mengangkat novel distopia sebagai objek untuk skripsinya. Masih berstatus mahasiswa, memiliki pekerjaan sampingan dan terus berbuat untuk literasi di kalangan anak muda, saya mesti angkat topi untuk kerja keras dan dedikasi mereka.
Kuliah di bidang Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Zulva Avidiansyah memutuskan untuk memilih GRI Sby sebagai objek pengerjaan skripsinya. Saat ini ia sedang meneliti bagaimana berkomunitas di dalam GRI Sby mampu berpengaruh pada sisi psikologis dan eksistensi generasi muda. Bicara tentang anak muda, ketika ditanya, apakah menurut Zulva ada pengaruh gadget di kalangan anak muda dengan kegiatan membaca mereka? Ia menjawab diplomatis bahwa semua hal bersifat subjektif pada setiap pembaca, apakah ia ingin memanfaatkan gadget sebagai sarana untuk meningkatkan intensitas kegiatan membaca atau tidak. Semua berpulang pada kesadaran dan pilihan masing-masing individu. Praja Firdaus pun membagikan informasi seputar kegiatan literasi di dalam lingkungan kampus. Sebagai salah seorang pegiat di Lingkar Literasi di UPN, ia berpendapat bahwa semestinya komunitas-komunitas literasi mengadakan acara di kampus sebagai pusat peradaban. Ia mengajak para mahasiswa untuk menyadari bahwa merekalah yang semestinya paling akrab dengan buku dan bacaan.
Masing-masing narasumber berada dalam satu pendapat bahwa budaya membaca sangat penting untuk dimiliki setiap orang. Langkah-langkah profesional dan karya mereka pun tidak lepas dari kegiatan membaca yang begitu berpengaruh. Suatu anggapan yang tidak bisa dibetulkan jika masih menganggap kegiatan membaca adalah kegiatan yang bersifat individualistis. Share The Love menunjukkannya tanpa perlu bicara berbusa. Bahwa membaca juga berhasil mempertemukan kami dengan begitu banyak jalinan persahabatan dan inspirasi. Tidak ada yang lebih patut berterimakasih selain Goodreads Surabaya untuk sebentuk kepedulian, kerjasama, persahabatan dari Perpustakaan UNAIR, juga seluruh narasumber dan audiens. Untuk limpahan kepercayaan bahwa kecintaan membaca selalu bisa dimulai dan tumbuh dalam diri masing-masing dan orang lain.

– Nabila Budayana –

http://nabilabudayana.blogspot.com/

Leave a Reply