Klub Buku GRI #2: Impian di Tepi Bakaro

13469266823_01646d50c6_z

Asean Literary Festival

Klub buku GRI 2014 kali ini terasa lebih spesial karena hadir tiga pembicara sekaligus dan dilaksanakan dalam atmosfer ASEAN Literary Festival (www.aseanliteraryfestival.com yang bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Minggu, 23 Maret 2014 lalu menjadi minggu sastra yang sangat menyenangkan. Windy Ariestanty seorang penulis handal ditemani Rica Ishak (@RicaIshak) design activist dari komunitas Buku Untuk Papua (@bukuntukpapua)serta David Pasaribu (@davearga) yang merupakan pengagas terbitnya buku Impian di Tepi Bakaro hadir membagi cerita tentang Papua, Manokwari khususnya. Perbincangan hangat yang dikawal oleh Harun Harahap diawali dengan perbincangan mengenai Komunitas Suka Membaca (KSM) Manokwari. David menjelaskan bahwa KSM Manokwari terbentuk secara resmi pada tanggal 20 April 2013. “Awalnya ingin mencari teman yang sehobi, tentunya hobi membaca” papar David ketika ditanya soal latar belakang dalam menggagas lahirnya KSM Manokwari. Komunitas Suka Membaca merupakan sebuah wadah para pecinta buku yang hobi membaca sekaligus jembatan saling berbagi buku bacaan. Melalui KSM Manokwari ini, anak-anak Papua diajak untuk menulis sebuah cerita keseharian mereka yang terangkum dalam buku Impian di Tepi Bakaro. Ada tiga belas cerita terpilih yang terjilid dalam satu buku ini. Isinya, cerita kesederhanaan hidup yang dibalut kentalnya budaya khas Papua.

“Seperti pulang kampung, flashback ketika aku pernah tinggal dan besar di sana” cerita Rica ketika ditanya soal kesan yang paling melekat setelah membaca Impian di Tepi Bakaro. Rica juga menjelaskan bahwa apa yang diceritakan dalam Impian di Tepi Bakaro memang benar-benar seperti yang dia alami dulu ketika tinggal di Papua. “Aku seperti ada di sana” lanjutnya. Berbeda dengan Rica, Windy Ariestanty sangat terkesan dengan kekhasan berbahasa yang tetap dipertahankan dan warna mob yang sangat kental. “Kekhasan dari bahasa cakap Papua buat saya adalah ketika mereka menyingkat kata saya menjadi sa, kata tidak ada menjadi trada dan lain-lain. Buku ini, walupun dalam bentuk cerpen tetapi ketika kita membacanya, kita seolah-olah diceritakan langsung oleh penulisnya di hadapan kita sampai-sampai kita tertawa terbahak-bahak” jelas Windy. Gaya cerita dalam buku Impian di Tepi Bakaro ini juga dapat memberikan gambaran kehidupan sebenarnya di sana kepada orang-orang yang belum pernah ke Papua atau mengingatkan kenangan pada orang-orang yang pernah ke sana. Perbincangan semakin seru ketika Rica Ishak diminta membacakan salah satu dialog dalam cerpen Impian di Tepi Bakaro lengkap dengan dialek khas Papua, yakni intonasinya yang sangat unik.

13469162545_c2b2e9c3de_z

Suasana Klub Buku #2

Hujan yang turun di tengah-tengah diskusi tidak mengurangi kehangatan suasana yang tercipta bahkan semakin hangat karena audiens lebih mendekat dengan narasumber. Pembahasan tak hanya berkisar mengenai buku Impian di Tepi Bakaro namun juga mengenai geliat dunia literasi di tanah Papua. Rica, yang memang tinggal dan besar di Papua menuturkan bahwa edukasi sastra hanya terbatas melalui pendidikan formal. Belum ada kegiatan khusus yang bergerak di bidang literasi, orang-orang Papua lebih senang pada dunia olahraga, tari, menyanyi. David Pasaribu mengatakan hal senada dengan Rica. Lalu Windy bercerita pengalamannya berinteraksi langsung dengan orang-orang Papua. Windy Ariestanty ini sebenarnya pernah mengajar di Tanah Papua, khususnya di Raja Ampat daerah Misool dan Kofiau. Kedua daerah ini memberikan pelajaran penting bagi Windy. Di sana dia tak hanya mengajar tetapi belajar bahkan lebih banyak belajar, “Saya akan mengurangi kata mengajar karena pada dasarnya memang kita di sana belajar. Ada satu mindset yang keliru pada orang-orang yang datang ke Papua, yakni bahwa saya punya lebih, memberi, mengajar. Padahal, orang-orang Papua adalah orang-orang luar biasa, mereka punya banyak kelebihan dan mereka tidak perlu lagi diberi. Ada satu pelajaran yang sangat berharga dari salah seorang teman yang kebetulan menjadi volunteer sebagai Pastour, bahwa betapa menyenangkannya, orang-orang yang datang ke Papua dengan tidak beranggapan saya punya lebih dan untuk memberi, tetapi saya akan datang ke sana dan melihat mereka punya apa dan saya akan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka” tutur Windy yang disambut dengan riuh tepuk tangan audiens. Windy juga bercerita hambatan dalam berinteraksi dengan orang-orang Papua seperti ketika di Kofiau, suatu daerah di mana penduduknya yang memiliki kebiasaan melaut dan tidak biasa dengan orang asing yang tiba-tiba berjalan di area perumahannya. Salah seorang teman volunteer Windy menyarankannya untuk menjadi teman mereka dan mengerti apa keinginan mereka. Tantangannya tak sampai disitu, Windy juga mengalami kendala dalam bahasa yang memaksanya untuk memutar otak agar mereka mau menulis. “Orang-orang di Timur Indonesia mampu berbicara dengan tatanan bahasa Indonesia yang sangat bagus. Ngomongnya berlagu, berima dengan SPOK yang sempurna. Kosakata yang mereka gunakan juga sama hanya logat atau dialek dan bahasa khasnya yang disingkat-singkat yang terdengar agak berbeda di telinga kita. Tetapi itu sebuah kekhasan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh mereka.” ujarnya. Metode belajar-mengajar yang digunakan juga terbilang sulit, karena sasarannya tak hanya anak-anak namun kepala suku pun ikut dalam kegiatan ini. Windy melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti mengajak berkeliling desa sambil melihat apa saja yang ada di sekitar lalu membebaskan mereka untuk memilih kata-kata yang paling disukai untuk dibuat di dalam sebuah kalimat. “Apapun yang menyenangkan mereka kita lakukan. Di sana tidak lagi berbicara soal teori bagaimana menulis yang bagus, yang terpenting adalah mereka mau membuat tulisan.” Tegas Windy.

Perbincangan semakin seru ketika membahas lebih dalam mengenai masalah perkembangan dunia literasi di Tanah Papua. David Pasaribu menjelaskan jika di Papua untuk kegiatan kesusateraan masih sangat jarang, masih terbatas dalam pendidikan formal, belum membudaya. Bahkan buku-buku dalam bentuk fisik masih sulit ditemukan meskipun sudah terbantu dengan teknologi seperti internet. Rica menambahkan bahwa fasilitas, transportasi dan SDM yang mumpuni dalam bidang literasi masih sangat kurang. Padahal kemampuan bahasa lisan orang-orang Papua sangat luar biasa, “Hebatnya orang Papua adalah mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sampai daerah-daerah pelosok di pedalaman.” tuturnya. Windy Ariestanty juga membenarkan bahwa masalah transportasi yang berbanding lurus dengan jarak adalah salah satu faktor utama dalam terhambatnya perkembangan literasi di Tanah Papua. “Ini persoalan klasik. Hal klasik yang akan selalu terjadi pada negara kepulauan. Bahkan waktu saya mengikuti sebuah pelatihan internasional untuk copyright yang ketika itu tutor saya adalah seorang editor asal Inggris belum bisa memberi solusi untuk permasalahan distribusi pada negara kita yang berbentuk kepulauan. Internet, waktu itu diajukan sebagai solusi tapi lagi-lagi sulit untuk menyamaratakan kualitas teknologi di sebuah negara kepualauan yang sangat besar apalagi Papua yang berada di Timur Indonesia. Untuk listrik saja, mereka masih menggunakan generator yang dinyalakan sesuai dengan jadwalnya. Ini pekerjaan rumah buat kita. PR ini tidak mungkin tidak ada solusi jika orang-orang yang terlibat dalam industrinya memberikan kesempatan dan memikirkan hal ini dengan serius” ungkapnya.

Dunia literasi yang berkembang di Tanah Papua ini memang disebabkan oleh banyak faktor. Jarak, yang menjadi faktor utama lalu akses untuk memperoleh bacaan juga masih sangat terbatas mengingat kemajuan teknologi di negara kepulauan yang sangat luas ini masih timpang di sana-sini bahkan hanya ada satu toko buku di Jayapura dan masalah kepenerbitan juga tak kalah penting. Para penerbit buku jarang yang memahami permintaan buku-buku berkualitas yang dibutuhkan masyarakat dalam negara kepulauan. Seperti kita ketahui, negara kepulauan sudah pasti ditumbuhi budaya-budaya yang khas tiap daerah. Sudah pasti masyarakatnya memiliki kebutuhan yang berbeda di tiap daerah meskipun itu bahan bacaan. Windy Ariestanty yang sudah merasakan asam garam dunia penerbitan buku membagi ilmu yang sangat bermanfaat bagi kita, sebagai orang awam hanya tahu buku terbit lalu membacanya. Ada proses panjang yan terlibat dalam penerbitan sebuah buku. “Terkadang kita berpikir bahwa menerbitkan buku harus skala nasional. Ini merupakan mindset yang keliru buat saya. Ketika kita berbicara lokalitas, mari berpikir pada skala lokalnya. Mari bicara pada skala Papua, daya serap teman-teman Papua berapa? Lalu kita sanggup menyediakan berapa? Jangan paksakan selera nasional ke Papua. Buat mereka mau membaca. Tetapi, sekarang persoalannya, berapa banyak penerbit yang mau terlibat ketika kita bicara hal-hal tertentu saja? Penuhi dulu kebutuhan lokalnya. Berangkatlah dari hal-hal sederhana, hal-hal kecil” jelas Windy.

Diskusi berlanjut mengenai sejauh mana komunitas yang bergerak di bidang literasi di Papua. “Belum ada sama sekali” kata Rica Ishak ketika ditanya soal keberadaan komunitas menulis-membaca di Papua. Terbatasnya fasilitas yang mengakibatkan terbatas pula buku-buku fisikyang dibutuhkan membuat orang-orang Papua lebih senang pada bidang olahraga, seni tari ataupun menyanyi. Kurangnya sumber daya manusia juga menjadi faktor kurang berkembangnya dunia literasi di Tanah Papua. “Kalau untuk sastra sendiri belum ada selain dari pendidikan sekolah. Itu pun selama aku bersekolah, guruku bukan orang yang benar-benar memahami sastra. Hanya mengajar sebatas teori. Jadi, dari segi SDM-nya belum ada.” tutur Rica. Permasalahan ini sedikit-banyak sudah mulai teratasi dengan hadirnya Komunitas Buku Untuk Papua yang menyalurkan donasi buku-buku ke seluruh wilayah Papua. Rica Ishak yang merupakan bagian dari Buku Untuk Papua ini mengajak seluruh masyarakat untuk berdonasi dalam bentuk buku. “Sekarang kita dapat berkontribusi untuk perkembangan dunia literasi di Papua melalui donasi buku. Buku-buku ini melalui Buku Untuk Papua akan disebarluaskan ke seluruh penjuru Papua”.

“Yang paling penting buat saya sekarang ini adalah berkomunitas. Melalui komunitas, mereka mendapat akses. Semua bisa bergerak sendiri, tetapi ketika bersatu akan menjadi kekutan yang lebih besar. Seperti Bang David yang menggagas Komunitas Suka Membaca yang diawali mencari teman sehobi. Mencari teman ini sebenarnya akan menjadi spirit bersama. Kita punya isu yang sama, isu ini yang akan menjadi gerakan yang besar” jawab Windy ketika ditanya satu hal yang paling penting yang bisa dilakukan teman-teman Papua dalam menggerakkan di bidang literasi. Sementara David Pasaribu mengajak seluruh audiens yang hadir untuk membantu berkembangnya Komunitas Suka Membaca dengan membeli, membaca dan menyebarluaskan buku Impian di Tepi Bakaro. Redanya hujan juga mengakhiri diskusi buku Impian di Tepi Bakaro.

Semoga bermanfaat! 🙂

One Comment

Leave a Reply