Klub Buku #5: Impian Anak Indonesia

Pembicara dan ModeratorKlub Buku GRI #5

Pembicara dan ModeratorKlub Buku GRI #5

Socmed Festival 2013 berlangsung dengan berbagai agenda seru yang diisi oleh banyak komunitas social media. Salah satu di antaranya yang turut berpartisipasi aktif tentu komunitas Baca Itu Seru dari Goodreads Indonesia. Sabtu, 12 Oktober 2013 pukul 18.30 bertempat di SAE Institut fx lantai 6, diselenggarakan diskusi buku yang cukup menarik. Bekerja sama dengan komunitas Aku Anak Indonesia Ini Hidupku dari Yayasan World Vision, diskusi buku Kenari Kecil dari Kalabahi menghadirkan narasumber seorang psikolog lulusan Universitas Indonesia sekaligus praktisi pendidikan anak, mbak Layli Dayanti. Serta senior editor dari divisi komunikasi Yayasan World Vision Indonesia, yakni Bapak Hendro Suwito. Acara NGUPI atau Ngobrol Untuk Putra – Putri Indonesia itu diawali dengan menonton sebuah film pendek tentang keseharian anak-anak, baik yang diceritakan di buku maupun yang diputuskan untuk tidak dimasukan. Melihat tayangan itu, saya pribadi menangkap mereka adalah anak-anak warga negara Indonesia yang “seharusnya” punya hak yang dijamin oleh Undang – Undang Dasar tentang kelangsungan pendidikannya. Namun karena yang terekam adalah sisi perjuangan, ketegaran dan imajinasi mereka yang tak jua dimatikan gemunung kendala, pada akhirnya mereka menginspirasi saya. Mengutip sebuah tweet yang sekelebat sempat terbaca di timeline, ‘Karena menyelam di laut tidak sesulit menyelami kehidupan.’ Mungkin salah satu maksud awal Tuhan agar manusia membaca (ayat – ayat) kehidupan. Dan anak – anak itu adalah ayat-Nya yang nyata.

Talkshow malam itu dimoderatori oleh Mbak Vera D. Damiri yang juga berprofesi sebagai seorang guru. Sekilas Pak Hendro yang hampir memasuki masa pensiunnya karena sudah bekerja selama sembilan belas tahun menjelaskan bahwa buku yang didiskusikan itu adalah sebuah kumpulan tulisan tentang kisah anak – anak Indonesia yang dibina dan disponsori oleh Yayasan World Vision. World Vision sendiri adalah sebuah LSM internasional yang sudah berdiri lebih dari lima puluh tahun. Lalu membentuk Wahana Visi Indonesia yang kemudian bekerja sama dengan Departemen Sosial di bidang pengembangan masyarakat. Ide pembuatan buku itu sudah tercetus sejak dua tahun yang lalu, terang Pak Hendro. Saat itu Ibu Sally dari bagian komunikasi lah yang awalnya memiliki ide menerbitkan kisah anak-anak binaan World Vision. Tentu di lapangan kisahnya sangat banyak, namun karena pertimbangan marketing plann dari penerbit maka diadakan penyeleksian. Bagi Pak Hendro yang sempat bekerja sebagai wartawan di surat kabar berbahasa Inggris, Jakarta Post selama sepuluh tahun itu, kisah yang paling menarik ada di kota Surabaya.

Kisah pertama tentang Putri yang duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Bapaknya masuk penjara, begitu keluar dia pun lari bersama wanita lain meninggalkan Putri dan Ibunya begitu saja. Demi menyambung hidup Ibu Putri bekerja sebagai pelayan di gerai burger. Putri berpotensi secara akademis namun sarat dengan keterbatasan dana. Lalu ada juga kisah tentang Lutfia yang awalnya ditinggal mati oleh Bapaknya pada saat tengah merenovasi rumah mereka. Lutfia sebagai anak yang paling besar sempat mengantarkan sang Ibu dengan motor hingga terjadi kecelakaan. sang Ibu meninggal dan mata Lutfia hampir buta. Musibah itu membuat shock yang sangat dalam bagi adik – adik Lutfia. Hal itu membuat Pak Hendro berpikir, ‘Bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup anak-anak yatim piatu itu?’ karena ternyata perjuangan mereka untuk survive tidak lepas dari bantuan yang tak disangka – sangka datangnya berasal dari orang yang dulu pernah Lutfia kenal namun telah lama lost contact. 

“Tuhan menolong dengan demikian tepat waktu”, ujar Pak Hendro. “Kisah itu menyegarkan bagi saya yang meliput, karena kisah – kisah kecil itu juga menguatkan saya dalam hidup.”
Dari perspektif Mbak Layli sendiri melihat isi buku Kenari Kecil dari Kalabahi itu menonjol di sisi ketangguhan anak – anaknya. Karena pressure yang mereka hadapi bisa menimbulkan dua kemungkinan. Pertama, anak berhasil mengadaptasi kejadian susah yang menuntut mereka agar survive. Kedua, justru menghasilkan tingkah laku adaptif yang mencorong ke arah negatif. Mbak Layli yang berkecimpung di bidang ilmu teknologi anak spesial 3 – 9 tahun itu membidik fokus ‘dukungan komunitas’ sebagai faktor penguat utama bagaimana anak – anak itu akhirnya sukses. Selain itu dijabarkan pula oleh beliau bahwa dua faktor lainnya adalah keluarga serta internal anak tersebut dengan bakat dan genetika bawaannya. 

Diskusi lalu dikembalikan pada Mbak vera yang memberi pernyataan, “Kita tak tahu masa depan mereka akan seperti apa, tapi anak-anak itu nyata ada.” Bagi kita yang telah dewasa, serangan gadget yang melimpah ruah dari produsen luar membuat kita menjadi digital imigran. Namun bagi anak – anak kita yang usia dini, mereka sudah sangat pintar memainkan gadget canggih hingga membuat mereka menjadi digital nattive. Ke depannya apakah Wahana Visi memiliki rencana untuk mengenalkan teknologi pada anak – anak binaannya atau mungkin justru dibiarkan saja mereka yang di pelosok tetap dengan kearifan lokal yang ada? Menjawab pertanyaan Mbak Vera tersebut, Pak hendro menjelaskan bahwa Wahana Visi terus mencari terobosan di bidang teknologi untuk anak – anak asuh mereka bukan hanya di Alor saja yang diwakili gadis cilik penyiar radio yang kisahnya ada di buku, melainkan juga di Jayapura, Wamena dan kota lainnya. Wahana Visi juga pernah bekerja sama dengan radio KBR68H, mengajak anak – anak siaran, memberi pembinaan pada mereka yang berusia remaja untuk lebih melek tentang HIV/AIDS dan bagaimana menghindarinya. Lalu Wahana Visi juga menyelenggarakan kursus komputer bagi anak – anak yang tek berpeluang kuliah agar pelatihan itu bisa jadi modal kerja mereka. 

“Seperti itulah, anak Indonesia yang diceritakan di buku itu adalah anak – anak biasa, dengan perjuangannya untuk survive dengan mimpi yang sederhana”, tukas Mbak Vera. Kini giliran Mabak Layli yang diberi kesempatan bertanya. Ada dua pertanyaan yang disampaikan, pertama, Mbak Layli ingin tahu kisah anak lainnya yang tak seberuntung anak – anak yang dibukukan itu. Lalu yang kedua, Mbak Layli mempertanyakan cara pendekatan yang dipakai oleh para penggerak Wahana Visi hingga bisa begitu masuk ke dalam dan diterima dengan baik oleh anak – anak. “Tentu ada, banyak!” jawab Pak Hendro. “Misalnya di Papua, situasinya sangat sulit untuk bersekolah, desanya terpencil, kualitas pendidikannya kurang, kalaupun ada sekolah dasar di desa itu pun hanya SD darurat dimana hanya menyelenggarakan pendidikan di tingkat kelas satu hingga kelas tiga saja. Setelah itu mereka dianggap sudah agak besar untuk bisa menerjang kondisi geografis tanah Papua, pergi ke desa yang lebih agak besar untuk meneruskan pendidikannya. Begitu lulus, mereka harus ke kota kecil yang ada SMP. Lulus SMP mereka harus ke kota yang lebih agak besar untuk sekolah SMA. Dan itu mereka harus mendirikan gubuk sendiri, bercocok tanam untuk makan dan biaya sekolah karena tidak mungkin mereka mengandalkan uang dari kiriman. Keluarga mereka di desa saja juga susah makan. Dan dari beberapa anak itu hanya ada dua yang survive hingga bisa mengeyam bangku kuliah. Setelah lulus, yang satu memilih jadi pejabat pemerintahan di Papua dan yang satu lagi menjadi staff kami membantu pendidikan anak – anak dari desanya.” Pak Hendro sendiri sangat salut dengan staff-nya itu yang dengan gaji kecil namun tetap memilih berkorban memandu memajukan pendidikan anak – anak dari desanya itu. 

Sedangkan untuk metode pendekatan ke anak – anak, Pak hendro menguraikan serangkaian kegiatan Wahana Visi yang membuat para penggeraknya begitu dekat dengan anak –anak asuhnya. Di Wahana Visi ada program kelompok belajar anak yang dibuka sejak usia mereka masih sangat dini. Program itu terlaksana dengan baik karna dukungan masyarakatnya serta bekerja sama dengan mahasiswa perguruan tinggi yang ikut serta menjadi volunteer. Program itu dibuat dengan sangat terarah, terencana dan terpadu, karena di satu tempat berlangsung sinambung selama lima belas tahun. Lalu ada juga berbagai pelatihan, salah satunya tentang kepemimpinan agar anak – anak itu menjadi lebih percaya diri dengan begitu bisa meningkatkan prestasi mereka di sekolah. Wahana Visi juga menyelenggarakan Forum Anak Nasional setiap dua tahun sekali. Di acara tersebut anak – anak digembleng mentalnya, dibuka wawasannya. Jadi begitu mereka pulang, mereka bisa sharing dan memberi motivasi bagi teman – temannya. Membaca Kenari Kecil dari Kalabahi, Mbak Vera menggarisbawahi kalimat – kalimat sederhana namun tak kurang menohok yang ada di dalamnya. Yang paling disukainya adalah, “Kamu malu dapat apa? Tidak malu dapat apa? Kalau malu tambah ganteng, malulah terus,” sekelumat bagian Dari Tukang Sol hingga Bintang Radio. Kesempatan bertanya kini diberikan pada audiens yang hadir. Yohanna, bertanya tentang apa yang bisa dilakukan untuk mendukung pendidikan anak – anak di pedalaman daripada menunggu pemerintah yang pasif. Pak Hendro berpendapat bahwa berani memberi dukungan nyata, sekecil apapun, itu sangatlah berarti. Sebenarnya dari pihak swasta yang diselenggarakan Bapak Anies Baswedan dengan Indonesia Mengajar-nya sudah merupakan program terobosan.

Peserta Klub Buku GRI #5

Peserta Klub Buku GRI #5


Ada juga program pemerintah daerah yang bagus bekerja sama dengan Yohanes Surya, seperti mendirikan asrama di pinggir Wamena agar para guru bersedia mengajar anak – anak pedalaman di asrama tersebut. Sehingga memang diperlukan kerja sama antara pendidik, pemerintah daerah setempat serta para donatur untuk embuat terobosan baru. Mbak Vera pun menarik kesimpulan bahwa kita musti mencoba apa saja yang kita bisa lakukan untuk membantu mereka, membantu sesama kita. Diskusi pun berlanjut dengan mendengarkan opini Dwi yang berasal dari Papua. Menurutnya buku itu seharusnya tak hanya memuat tiga puluh kisah, karena mungkin ada lebih dari seribu kisah yang musti ditulis. Anak – anak di kota besar cenderung lebih tertarik dengan hal – hal yang berbau luar negeri, padahal jika dia mau mengenal Indonesia, dia akan lebih memilih memberi manfaat bagi negeri ini. Acara berbagi inspirasi malam itu pun ditutup Mbak Vera dengan motivasi yang tersurat dari isi buku Kenari Kecil dari kalabahi, kita harus tetap bersyukur dengan hidup kita karena masih bayak saudara kita yang lebih sulit dari kita, jadi tolong tetap tabah! At least, dua buku gratis pun dibagikan pada Yohana dan Dwi dengan diserahkan oleh Pak Hendro dari Wahana Visi serta Mbak Layli sebagai narasumber.

Sekian laporan pandangan matanya. Maaf kalau kepanjangan, kalau banyak salah di sana – sini juga. Namanya juga yang bikin manusia. sampai jumpa di klub buku selanjutnya ya teman… 🙂 

Leave a Reply